Rabu, 01 Juli 2009

FORM-FOCUSED INSTRUCTION

A glance through the last century of language-teaching practices reveals mixed opinions about the place of teaching language forms, depending on the method or era. The forms of language include the organizational components of language and systematic rules that govern their structure. Phonological, grammatical, and lexical forms occupy the three principle formal categories that typically appear in language curriculum. Since phonology was discussed in Chapter 17 in the forms of pronunciation teaching, out focus here will be on the place of grammar and vocabulary in language teaching.

THE PLACE OF GRAMMAR
Grammar is the system of rules governing the conventional arrangement and relationship of words in sentence. Technically, grammar refers to sentence-levels rules only, and not to governing the relationship among sentence.
Organizational competence is necessary for communication to take place, but not sufficient to account for all production and reception in language. Grammar gives us the forms or the structures of language. In other words, grammar tell us how to construct a sentence (word order, verb, and noun system, modifiers, phrases, clauses, etc)

TO TEACH OR NOT TO TEACH GRAMMAR
Reason, balance, the experience of teachers in recent CLT tells us that judicious attention to grammatical from the adult classroom is not only helpful, if appropriate techniques are used, but essential to a speedy learning process.
1. Age
Young children can profit from a focus on forms if attention to form is offered through structured input incidental. Adults with their intellectual capabilities can use grammatical pointers to advance their communicative abilities.
2. Proficiency level
Don’t give grammar very much in levels learner just focusing grammar in helpful as an occasional. At the advanced levels grammar is not necessary; the most important is communicative fluency.
3. Educational background
Students who have no formal education get difficulty in grammatical, but educated students are cognitively receptive to grammar and error correction.
4. Language skills
Grammar more effective in improving written English.
5. Style (Register)
Similarly, in writing, tolerance for errors is higher than in speaking.
6. Needs and goals
If learners are headed toward professional goals, they may need to stress formal accuracy more than learners at survival levels

ISSUES ABOUT HOW TO TEACH GRAMMAR
1. Should grammar be presented inductively or deductively?
In most contexts, an inductive is more appropriate because more in keeping with natural language acquisition, mare easily, allows student to get communicative, built more intrinsic motivation.
2. Should we use grammatical explanations and technical terminology in a CLT classroom?
In CLT grammatical explanation and terminology must be approached with care.
3. Should grammar be taught in separate “grammar only” classes?
Under the conditions, the grammar assumes its logical role as one of several supporting foundation stones for communication.
4. Should teachers correct grammatical errors?
Many student errors in speech and writing performance are grammatical. The treatment of grammatical errors in writing is different matter

GRAMMAR TECHNIQUES
1. Charts
2. Objects
3. Maps and Drawings
4. Dialogues
5. Written texts

GRAMMAR SEQUECING IN TEXTBOOKS AND CURRICULA
Grammatical sequencing received a great deal of attention in the 1950s and 60s when curricula and textbooks were organized around grammatical categories


A “WORD” ABOUT VOCABULARY TEACHING
1. Allocate specific class time to vocabulary learning
In the hustle and bustle of our interactive classrooms, sometimes we get so caught up in lively group work and meaningful communications.
2. Help student to learn vocabulary in context
The best internalization of vocabulary comes from encounters with word within the context of surrounding discourse.
3. Play down the role of bilingual dictionaries
A corollary to the above is to help student to resist the temptation to overuse their bilingual dictionaries.
4. Encourage students to develop strategies for determining the meaning of words
Included in the discussion of learning strategies are references to learning words
5. Engage in “unplanned” vocabulary teaching
Unfortunately, professional pendulums have a disturbing way of swinging too far one way or the other, and sometimes the only way we can get enough perspective to see these overly long arcs is thought hindsight. We now seem to have healthy respect for the place of from-focused instruction-attention to those basic of language in interactive curriculum.

Rabu, 14 Januari 2009

TS : Writing class during this semester is useful for us

MP : we can know about process to make essay
: decide general and good topic
: write thesis statement
: write the main point of each paragraph
: make outline

MP : We can know how to organize paragraph
: We can organize paragraph by grouping
: We can organize paragraph by time
: We can organize paragraph by space
: We can organize paragraph by rank order

MP : we can know how to make essay if our essay is read
: Attention the conjunction
: Attention the grammar
: Attention, the correlation each sentences

Rabu, 31 Desember 2008

politik

Kesempatan luas kepada siapa saja untuk terjun dalam kancah politik. Lahirnya partai politik di tanah air, adalah indikasi bahwa reformasi yang bermuara kepada terbukanya kebebasan berdemokrasi telah dan akan terus berjalan. Partisipasi rakyat dalam euforia kebebasan berdemokrasi menjadi lumrah adanya, termasuk peran serta kalangan ulama dalam perhelatan ini.
Para ulama, baik secara terang-terangan atau bermain di balik layar, akhirnya banyak terlibat dalam partai politik. Padahal, perjalanan pahit kerap kali dipertontonkan kepada kita, ulama cenderung ditinggalkan ketika kekuasaan sebagai tujuan utama dalam berpolitik telah terwujud. Pengalaman juga menunjukkan, ulama sering ditinggalkan bahkan nasihatnya pun untuk penguasa sering dianggap duri yang harus disingkirkan. Tetapi seperti tidak pernah ada penyesalan, sebagian ulama pun asyik berkutat di wilayah ini, bahkan menjadi penyokong suara yang perlu diperhitungkan dalam setiap pesta demokrasi di negeri ini.
Dalam konteks Aceh misalnya, para penyokong spiritual sejumlah partai lokal juga dipenuhi oleh sejumlah ulama kharismatik. Percaya atau tidak, meski jauh-jauh hari di Muktamar Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) para ulama telah berazam (janji) untuk tidak turun berpolitik. Toh akhirnya, kesepakatan itu, tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. Banyak diantaranya, yang secara terang- terangan kembali berkecimpung dalam kegiatan politik praktis. Atau bahkan berperan sebagai arsitek untuk sebuah partai lokal









di Aceh. Keputusan itu, tentu bukan tanpa alasan,
semuanya sudah dibahas secara matang.
Kehadiran figur ulama dalam sebuah partai cukup ampuh untuk menyedot emosi massa. Untuk itu, tidak heran jika sejumlah fungsionaris partai baik lokal maupun nasional mulaimelirik sejumlah ulama kharismatik untuk bergabung di partainya. Sebuah komunitas ulama pun ramai-ramai dibentuk menjelang perhelatan pemilu 2009 mendatang.
Peran serta ulama dalam wilayah politik praktis, banyak dipersoalkan, termasuk juga membingungkan umat yang dalam keseharian telah mendaulatnya sebagai panutan. Selain itu, aspek kefiguran akan sedikit memudar ketika ulama telah menjelma sebagai figur politikus. Sesuatu yang lumrah adanya, mengingat pergerakan partai politik sering kali tidak luput dari praktek kotor berselimut kebebasan demokrasi.
Dalam sistem kapitalis, partai memang harus concern pada kekuasaan. Itu konsekuensi ideologis. Saat pemilu masing-masing partai berlomba untuk menjadi pemenang. Ketika kalah pun, partai tersebut menjelma sebagai oposan dengan harapan di pemilu berikutnya menjadi pemenang dan menjadi partai yang berkuasa. Lazimnya, untuk tujuan itu tidak ada cara yang diharamkan; semua boleh-money politics, konspirasi, dan sebagainya. Di sebagian dayah atau pesantren bahkan ada guyonan, "Kalau di Pesantren pakai Tafsîr Jalâlayn, tapi kalau di partai politik pakai `tafsir jalan lain'."
Melihat kenyataan ini, rakyat juga harus dewasa dan jeli menentukan hak pilihnya. Jangan hanya karena ada tokoh ulama yang bercokol di sebuah partai lalu menjadikannya pilihan. Perlu kejujuran menentukan pilihan termasuk kejujuran menilai ulama, apakah dia ulama yang berpolitik atau politikus yang mendadak menjadi ulama setiap menjelang pemilu.
KH Mustofa Bisri (dalam TEMPO Interaktif, Jakarta) menilai wajah perpolitikan Indonesia sangat buruk, sehingga siapapun yang terlibat akan tercemarkan. Akibatnya, tak ada kepercayaan sama sekali kepada kiai yang ikut terlibat dalam politik, karena semua kiai dianggap tersangkut paut pada politik yang buruk.
Mereka, lanjut Mustofa, tidak tahu bahwa kiai itu macem-macem. “Ada kiai produk masyarakat, kiai produk pemerintah, produk pers, produk politisi dan kiai produk sendiri,” jelasnya.
Bagi sebagian kalangan lain, kiai seharusnya tidak masuk ke kubangan politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan keumatan. Alasannya, kiai adalah lembaga sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, serta menjadi payung semua golongan (rahmatan lil’alamin). Sementara politik bersifat profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, tendensius, dan kepentingan sesaat serta memiliki orientasi perjuangan yang sempit hanya pada kelompok tertentu, yakni massa pendukungnya. 
Menurut salah seorang santri Alumnus Ma’had al-’Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Kudus, bahwa Kiai yang berpolitik dikhawatirkan akan terjebak pada logika politik (the logic of politics) memanipulasi masyarakat basisnya demi kepentingan politik sesaat, yang pada gilirannya menggiring ke arah logika kekuasaan (the logic of power) yang cenderung kooptatif, hegemonik, dan korup. Akibatnya, kekuatan logika (the power of logic) yang dimiliki kiai, seperti logika moralitas yang mengedepankan ketulusan pengabdian akan tereduksi atau bahkan hilang sama sekali, terkalahkan oleh logika kekuasaan tadi.
Dalam sistem masyarakat demokrasi, siapa pun berhak untuk berserikat dan berpolitik. Hanya saja, hendaknya tidak semua kiai berpolitik. Kalau kiainya sangat ‘lugu’ dan sufistik, serta dipandang lebih bermanfaat bagi masyarakat dengan gerakan ‘politik independen’, alangkah baiknya tetap di dunia pesantren mencetak ilmuwan-ilmuwan muslim yang unggulan atau menjadi transformator masyarakat dengan semai kesejukannya mengawal moral bangsa.
Alhasil, terjun atau tidak ke politik sepenuhnya bergantung pada asas manfaat dan ketahanan diri kiai menghadapi godaan materi dan hegemoni. Apakah keberadaannya dalam peran-peran politik dapat menciptakan harmoni yang dinamis dan keberpihakan kepada kepentingan universal, ataukah justru menciptakan dis-harmoni yang statis dan keberpihakan kelompok (partai) atau bahkan peneguhan kepentingan pribadi? 
Pesona politik terkadang memang membuat seseorang kehilangan idealismenya. Dulu, bisa saja seseorang menolak bahkan ‘mengharamkan’ dirinya bersentuhan dengan politik. Namun, karena ada kepentingan semisal materi, hegemoni, prestise, dan kelancaran birokrasi, maka tak terelakkan lagi keterlibatan mereka dalam politik praktis.
Terjun ke politik (kekuasaan) memang besar taruhannya. Bisa jadi agama dan politik bukan lagi pemersatu, tetapi menjadi faktor pemecah persatuan dan persaudaraan. Umat dan agama akan diseret ke politisasi yang paling pragmatis. Jatuh ke jurang politik rendahan (low politics) dan tidak bermoral. Akibatnya, Islam tidak lagi Islami dan keteladanan moral pun tak lagi didapati. Pendapat Ketua PBNU Said Aqil Siradj nampaknya perlu kita renungkan. Menurut beliau, kiai boleh berpolitik (praktis) sejauh dilakukan secara profesional dan proporsional. Profesional mengandung pengertian kemampuan dan etika. Sementara proporsional berarti jika sang kiai mengasuh pesantren atau menjadi tokoh sentral pengajian rutin di masyarakat, yang bersangkutan hendaknya bisa membagi waktu dengan baik dan menghindari terjadinya konflik kepentingan. 




























Kesempatan luas kepada siapa saja untuk terjun dalam kancah politik. Lahirnya partai politik di tanah air, adalah indikasi bahwa reformasi yang bermuara kepada terbukanya kebebasan berdemokrasi telah dan akan terus berjalan. Partisipasi rakyat dalam euforia kebebasan berdemokrasi menjadi lumrah adanya, termasuk peran serta kalangan ulama dalam perhelatan ini.
Para ulama, baik secara terang-terangan atau bermain di balik layar, akhirnya banyak terlibat dalam partai politik. Padahal, perjalanan pahit kerap kali dipertontonkan kepada kita, ulama cenderung ditinggalkan ketika kekuasaan sebagai tujuan utama dalam berpolitik telah terwujud. Pengalaman juga menunjukkan, ulama sering ditinggalkan bahkan nasihatnya pun untuk penguasa sering dianggap duri yang harus disingkirkan. Tetapi seperti tidak pernah ada penyesalan, sebagian ulama pun asyik berkutat di wilayah ini, bahkan menjadi penyokong suara yang perlu diperhitungkan dalam setiap pesta demokrasi di negeri ini.
Dalam konteks Aceh misalnya, para penyokong spiritual sejumlah partai lokal juga dipenuhi oleh sejumlah ulama kharismatik. Percaya atau tidak, meski jauh-jauh hari di Muktamar Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) para ulama telah berazam (janji) untuk tidak turun berpolitik. Toh akhirnya, kesepakatan itu, tidak berjalan seperti yang diharapkan semula. Banyak diantaranya, yang secara terang- terangan kembali berkecimpung dalam kegiatan politik praktis. Atau bahkan berperan sebagai arsitek untuk sebuah partai lokal









di Aceh. Keputusan itu, tentu bukan tanpa alasan,
semuanya sudah dibahas secara matang.
Kehadiran figur ulama dalam sebuah partai cukup ampuh untuk menyedot emosi massa. Untuk itu, tidak heran jika sejumlah fungsionaris partai baik lokal maupun nasional mulaimelirik sejumlah ulama kharismatik untuk bergabung di partainya. Sebuah komunitas ulama pun ramai-ramai dibentuk menjelang perhelatan pemilu 2009 mendatang.
Peran serta ulama dalam wilayah politik praktis, banyak dipersoalkan, termasuk juga membingungkan umat yang dalam keseharian telah mendaulatnya sebagai panutan. Selain itu, aspek kefiguran akan sedikit memudar ketika ulama telah menjelma sebagai figur politikus. Sesuatu yang lumrah adanya, mengingat pergerakan partai politik sering kali tidak luput dari praktek kotor berselimut kebebasan demokrasi.
Dalam sistem kapitalis, partai memang harus concern pada kekuasaan. Itu konsekuensi ideologis. Saat pemilu masing-masing partai berlomba untuk menjadi pemenang. Ketika kalah pun, partai tersebut menjelma sebagai oposan dengan harapan di pemilu berikutnya menjadi pemenang dan menjadi partai yang berkuasa. Lazimnya, untuk tujuan itu tidak ada cara yang diharamkan; semua boleh-money politics, konspirasi, dan sebagainya. Di sebagian dayah atau pesantren bahkan ada guyonan, "Kalau di Pesantren pakai Tafsîr Jalâlayn, tapi kalau di partai politik pakai `tafsir jalan lain'."
Melihat kenyataan ini, rakyat juga harus dewasa dan jeli menentukan hak pilihnya. Jangan hanya karena ada tokoh ulama yang bercokol di sebuah partai lalu menjadikannya pilihan. Perlu kejujuran menentukan pilihan termasuk kejujuran menilai ulama, apakah dia ulama yang berpolitik atau politikus yang mendadak menjadi ulama setiap menjelang pemilu.
KH Mustofa Bisri (dalam TEMPO Interaktif, Jakarta) menilai wajah perpolitikan Indonesia sangat buruk, sehingga siapapun yang terlibat akan tercemarkan. Akibatnya, tak ada kepercayaan sama sekali kepada kiai yang ikut terlibat dalam politik, karena semua kiai dianggap tersangkut paut pada politik yang buruk.
Mereka, lanjut Mustofa, tidak tahu bahwa kiai itu macem-macem. “Ada kiai produk masyarakat, kiai produk pemerintah, produk pers, produk politisi dan kiai produk sendiri,” jelasnya.
Bagi sebagian kalangan lain, kiai seharusnya tidak masuk ke kubangan politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan keumatan. Alasannya, kiai adalah lembaga sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, serta menjadi payung semua golongan (rahmatan lil’alamin). Sementara politik bersifat profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, tendensius, dan kepentingan sesaat serta memiliki orientasi perjuangan yang sempit hanya pada kelompok tertentu, yakni massa pendukungnya. 
Menurut salah seorang santri Alumnus Ma’had al-’Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Kudus, bahwa Kiai yang berpolitik dikhawatirkan akan terjebak pada logika politik (the logic of politics) memanipulasi masyarakat basisnya demi kepentingan politik sesaat, yang pada gilirannya menggiring ke arah logika kekuasaan (the logic of power) yang cenderung kooptatif, hegemonik, dan korup. Akibatnya, kekuatan logika (the power of logic) yang dimiliki kiai, seperti logika moralitas yang mengedepankan ketulusan pengabdian akan tereduksi atau bahkan hilang sama sekali, terkalahkan oleh logika kekuasaan tadi.
Dalam sistem masyarakat demokrasi, siapa pun berhak untuk berserikat dan berpolitik. Hanya saja, hendaknya tidak semua kiai berpolitik. Kalau kiainya sangat ‘lugu’ dan sufistik, serta dipandang lebih bermanfaat bagi masyarakat dengan gerakan ‘politik independen’, alangkah baiknya tetap di dunia pesantren mencetak ilmuwan-ilmuwan muslim yang unggulan atau menjadi transformator masyarakat dengan semai kesejukannya mengawal moral bangsa.
Alhasil, terjun atau tidak ke politik sepenuhnya bergantung pada asas manfaat dan ketahanan diri kiai menghadapi godaan materi dan hegemoni. Apakah keberadaannya dalam peran-peran politik dapat menciptakan harmoni yang dinamis dan keberpihakan kepada kepentingan universal, ataukah justru menciptakan dis-harmoni yang statis dan keberpihakan kelompok (partai) atau bahkan peneguhan kepentingan pribadi? 
Pesona politik terkadang memang membuat seseorang kehilangan idealismenya. Dulu, bisa saja seseorang menolak bahkan ‘mengharamkan’ dirinya bersentuhan dengan politik. Namun, karena ada kepentingan semisal materi, hegemoni, prestise, dan kelancaran birokrasi, maka tak terelakkan lagi keterlibatan mereka dalam politik praktis.
Terjun ke politik (kekuasaan) memang besar taruhannya. Bisa jadi agama dan politik bukan lagi pemersatu, tetapi menjadi faktor pemecah persatuan dan persaudaraan. Umat dan agama akan diseret ke politisasi yang paling pragmatis. Jatuh ke jurang politik rendahan (low politics) dan tidak bermoral. Akibatnya, Islam tidak lagi Islami dan keteladanan moral pun tak lagi didapati. Pendapat Ketua PBNU Said Aqil Siradj nampaknya perlu kita renungkan. Menurut beliau, kiai boleh berpolitik (praktis) sejauh dilakukan secara profesional dan proporsional. Profesional mengandung pengertian kemampuan dan etika. Sementara proporsional berarti jika sang kiai mengasuh pesantren atau menjadi tokoh sentral pengajian rutin di masyarakat, yang bersangkutan hendaknya bisa membagi waktu dengan baik dan menghindari terjadinya konflik kepentingan. 

Minggu, 28 Desember 2008

Happy New Years

TOPIC : NEW YEAR
Ts : I have methods to face New Year

Mp I : We can prepare to celebrate New Year
Sp I : We can invite all friends and family
Sp II : We make plan for this event
Sp III : We can make bugle from paper
Mp II : We must be careful
Sp I : We must keep our house
Sp II : We must be careful in street
Sp III : We must be careful in place where we want to go
Mp III : Do not camp it up when we celebrate New Year
Sp I : Celebrate New Year with simple celebration
Sp II : Do not waste our money to celebrate new years
Sp III : Do not celebrate New Year with drink alcohol



NEW YEAR


Month will be change also year will be change. I do not imagine that we have been in the end of year now. If we see surrounding us, many people to be seller suddenly. They think that this is appropriate timing to get much income. Maybe they can sell bugle, skyrocket and others because we will face New Year.
To face new years we can prepare first we can invite our friend in our boarding house to discuss about New Year. We can make a planning where we want to go, it will make easier to go everywhere. Afterwards we can buy trumpet or make trumpet buy our selves, if you buy trumpet in new years, the price will be high. Better for us we buy trumpet before New Year. But I think make trumpet is easy; we just need paper and glue. So, if you do not have much money you can make by your self.
In New Year many people go out from their house, we must be careful, if we want to go out you must keep our house white security or we can lock our house. We must be careful in street in that street is busy and traffic jam. If we ride our motorcycle very fast, it will be dangerous not only for our selves but also surrounding us. After we have arrived, we must be careful in place where we want, usually in crowded place many thieves and hold up man.
If we want to celebrate New Year, Do not camp it up when we celebrate New Year. We can celebrate New Year with simple celebration such as bring corn for burned together with our friend. Do not waste money to buy unuseful thing. Because still many useful thing that we need after New Year. Do not binge to celebrate New Year because many young man do it. It shows that our young generation is broken.
So, if you celebrate New Year do not be over, you can make simple party and combine with read HollyQuran or thanksgiving.

students organization

TOPIC : Student Organization
TS : Active in Student Organization is difficult

MP : We must be able to manage our time
SP I : We can make schedule
SP II : We must keep our attend enlist in class
SP III : We must not leave class if there is not important thing in organization
MP : Sometimes, It disturbs our study
SP I : Make our concentrations divided
SP II : Timing in organization usually is same white timing in class
SP III : We seldom brush up our lesson
MP : We need much money
SP I : It will waste our money if there are many activities
SP II : we need money to buy equipment in organization
SP III : If there is meeting, we buy snack or food by our money selves


STUDENT ORGANIZATION

As we know that in Campus we have many choices beside study in class or go to library to read a book. If we just study in campus without doing other activity we will be bored because we still have many leeways. We can look for relationship and get more experience exactly in organization but it is very difficult to active in organization
The first difficulty to active in organization, we must be clever to manage our time, to make balance between organization and study in class. If we want to manage our time, we can make good schedule because from schedule we know our activity everyday. After that we must pay attention our attendance because it will influence our score. Do not often leave class if there is not important thing in organization.
The second difficulty, sometime, it disturbs our study because our concentration is divided to think organization and lesson. We seldom brush up our lesson, because many activity in organization. Beside that time in organization usually coincide with time in class. The example when we have course but we have many job in organization it can disturb our concentration.
The other difficulty, we need much money to do all activity in organization because if there is event in organization we buy snack or food by our money selves. And than to complete our equipment in organization we buy by our money or just borrow to other organization. It shows that we need much money if you want to really active in organization.
From explanation above, we can make conclusion that active in student organization is difficult. Although it is very difficult but we must be struggle to be active in both.

Selasa, 23 Desember 2008

student organization

Name :Moh. A Zamzami
Class : C
No : 2070730074

TOPIC : Student Organization
TS : Active in Student Organization is difficult

MP : We must be able to manage our time
SP I : We can make schedule
SP II : We must keep our attend enlist in class
SP III : We must not leave class if there is not important thing in organization
MP : Sometimes, It disturbs our study
SP I : Make our concentrations divided
SP II : Timing in organization usually is same white timing in class
SP III : We seldom brush up our lesson
MP : We need much money
SP I : It will waste our money if there are many activities
SP II : we need money to buy equipment in organization
SP III : If there is meeting, we buy snack or food by our money selves

Minggu, 07 Desember 2008

NATURAL DISASTERS IN INDONESIA

NATURAL DISASTERS IN INDONESIA

In this era Indonesia faces many problems that leave many regrets and sadness. Do you know the problem? The big problem is from Natural Disaster which carries many victims, break many buildings and break parts of island. It is very dangerous and very difficult to be solved,Actually these cases happen because our selves don’t care about our environment.so there are many kinds of disaster in Indonesia.

Natural disasters from air is very dangerous, carry many damages and traffic jam such us when there is storm the air plane can not fly because it will be dangerous if we still fly. Other examples when there is a hurricane in Bekasi many trees falled down to street in the aftermath the street traffic jam and trouble. I still remember when there was whirlwind and gale in Polewali Sumatra; at that time all peoples were doing their activities suddenly wind blew over and higher finally all people was panic because power cable broken off in the street. They were afraid if the contact with power cable.
Natural disasters from earth, we know that our earth is being exploited without care our environment; it adds our affliction because we have gotten many disasters. Take an example in Jogja exactly in Bantul almost flat whith ground because all building broken and the victims was neglected because hospital was broken too. After that Merapi Mountain erupts that make shock all people because their plantation land was broken and they can harvest their plants. Other example that near with us is: when there was landslide in Pujon all people were panic and street is traffic jam until one day.
Natural disasters from water, History told that Tsunami was the biggest water disaster as long as Indonesian history. Almost Nangro Aceh Darussalam area was asundered in 10 minutes. At that time many human screamed, cried and called their God because they frightened out of with overload water from beach other peoples were confuse to look for their family who floated of Tsunami is like ant. After low tide, area of Nangro Aceh Darussalam became big grave in Indonesia. Beside that we can not close our eyes that every years Jakarta flood stricken, it become habit in there and Ciliwung river often overflowed because of rubbish. Actually all problem is caused by our selves so we must keep our environment to be clean and health.

Minggu, 30 November 2008

natural disasters

Thesis statement = Many natural disasters are happen in Indonesia

Main idea I = Natural disasters from air
Sub point 1 = There are storms
Sub point 2 = There are hurricanes
Sub point 3 = There are whirlwind
Main idea II = Natural disasters from water
Sub point 1 = There is Tsunami
Sub point 2 = There are many overflowed rivers
Sub point 3 = There are many inundation in Jakarta
Main idea III = Natural disasters from ground
Sub point 1 = There are many earthquakes
Sub point 2 = There are many landslides
Sub point 3 = There are many exploding mountains

Senin, 17 November 2008

UNISMA

Islamic University of Malang is green Campus and large campus in MT. Haryono, Dinoyo, Malang. There are two gates if you want to enter in UNISMA. You must pass into east gate and out from west gate. There is security office beside east gate and parking area for lecturer in front of security office. Rectorat building across parking area and behind Rectorat building is “F” building for medical faculty and Islamic religion faculty. In the west of Rectorat building there is “B” building behind it there is agriculture location and engineer faculty. 1000 promise garden in front of “B” building. FKIP office between “B” building and Law office behind Law office is “C” building for MIPA faculty and FKIP faculty, next to it is photo copy and library, in front of library is POLITEHNIK building, in the right of it is Computer center for browsing internet and the others. “E” building in the right of computer center that is for Economic Faculty, in front of Economic Faculty is volley ball field beside field is Canteen.

Kamis, 13 November 2008

Dr. Harry Alder had a very busy schedule

Dr. Harry Alder had a very busy schedule because he is director of the center for English language program of the University of Pennsylvania. At the first, Dr. Harry Alder schedule, he must read applicants resumes from 09:00 to 11:00 in his office and he must read carefully because this applicant resumes is very important. After that from 11:00 to 12:00, he will meeting with the Dean to discus about English program, and than he will lunch with Dr. Davis in Argareta restaurant because in there the menu is very complete and the place is comfortable. After have lunch he must interview applicants to make decision for applicants that they receive or not. At the last schedule, he must observe every class for applicants. So he is busy man because almost a day there are jobs.